* Sosialisasi Festival Malang Tempo Doeloe ~ Fakultas Ekonomi dan Bisnis
wajah baru web Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmer Malang .. kunjungi www.feb-unmer.com ...

Rabu, 23 Maret 2011

Sosialisasi Festival Malang Tempo Doeloe



FESTIVAL Tempo Doeloe Malang Kembali segera digelar di Kota Malang. Tahun ini festival yang dipersembahkan Pemerintah Kota Malang dan Yayasan Inggil memasuki tahun ke VI.
Penyelenggaraan tahun sebelumnya menjadi evaluasi pada pelaksanaan tahun ini. Termasuk menghapus image bahwa Malang Kembali bukan sekedar pasar malam.

Halaman kampus Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Merdeka (Unmer) Malang kemarin terlihat ramai. Suguhan musik mewarnai siang yang cukup terik itu. Beberapa mahasiswa yang terlihat sibuk dilokasi, tampak mengenakan kaos bertuliskan Malang Kembali. Rupanya mereka adalah para volunteer yang akan membantu mensosialisasikan even tahunan dalam rangka HUT Kota Malang itu.

‘’Kami melibatkan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mensosialisasikan bahwa Malang Kembali adalah tempat untuk belajar dengan gratis dan bukan pasar malam,’’ ungkap Ketua Yayasan Inggil, Dwi Cahyono yang juga alumni Fakultas Ekonomi Unmer Malang.

Rencananya, sosialisasi tidak hanya dilakukan di seluruh perguruan tinggi di Malang saja, tapi juga akan dilaksanakan di seluruh sekolah. Meski sudah dikenal oleh masyarakat namun menurut Dwi sosialisasi ini penting dilakukan mengingat masih banyak masyarakat yang belum paham apa sebenarnya yang ada di festival yang dilaksanakan di Jalan Ijen itu.
‘’Di festival ini orang bisa belajar banyak hal, yang kalau dihitung dengan uang biayanya mahal,’’ ujarnya.

Dwi mencontohkan, untuk belajar sejarah tidak cukup hanya membaca di buku saja. Tapi juga perlu melihat bukti sejarahnya atau minimal konstruksi tiruannya.

Untuk bisa mendapatkan pembelajaran yang riil ini tentunya sekolah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara di Malang Kembali banyak pelajaran yang bisa didapatkan pengunjung.
Ada galeri sejarah ekonomi industri, museum culture heritage, dan masih banyak lagi. Sayangnya setiap tahun masyarakat yang datang ke Malang Kembali belum memanfaatkan media belajar gratis ini dengan maksimal.

‘’Rugi sekali kalau datang hanya untuk berfoto-foto saja, tapi disini seharusnya masyarakat bisa mendapatkan informasi lengkap tentang sejarah Kota Malang,’’ kata dia.
Menurut pemilik Rumah Makan Inggil ini, apa yang disajikan selama empat hari di Malang Kembali sebenarnya merupakan presentasi dari hasil penelitian yang dilakukan selama satu tahun. Karena itu ia menjamin banyak hal baru yang dihadirkan pada setiap evennya.
Tahun ini misalnya festival yang bertajuk Discovering Heritage itu akan didesain lebih luwes untuk tiap stand. Untuk memberikan ruang yang lebih lega, panitia membatasi jumlah stand yang ada di sepanjang 2 km pameran. Kalau tahun lalu jumlahnya mencapai lebih dari 500 stand, harapannya tahun ini hanya sekitar 400 stand saja.

‘’Di setiap stand akan ada guide yang bertugas memberikan keterangan mengenai stand mereka,’’ bebernya. Dwi menegaskan, kalau pemerintah mengutamakan pendidikan berbasis karakter di sekolah, maka dalam acara yang akan dilaksanakan 19-22 Mei itu akan mewadahinya.

Desain berbeda dari tahun lalu dan juga isi pameran yang lebih padat diharapkan bisa menjadi rujukan pembelajaran bagi siswa. Karena itu ia berjanji tahun ini tidak akan ada pasar yang mewarnai gelaran Malang Tempo Doeloe.

Sebab keberadaan pasar pagi yang tahun lalu seolah menyatu dengan festival justru membuat image kegiatan ini buruk. Bahkan sempat terucap kesan bahwa Malang Kembali tak ubah seperti pasar malam.

Di sepanjang jalan tetap akan diwarnai dengan pasar namun yang bernuansa pendidikan. Ada pasar pon yang menjadi pusat kerajinan, pasar pahing yang menjadi pusat batik, pasar kliwon sebagai tempat pasar barang antic dan unik, juga ada pasar pahing dan pasar legi.

Sementara itu dalam sosialisasi kemarin nampak hadir pula Head of Malang Area Esia, Bondan Nurtjahjono. Tahun ini Esia yang akan membranding kegiatan Malang Kembali ini.
‘’Ini adalah kesempatan bagi kami menjadi bagian dari Kota Malang, Bakrie Telecom ingin memulai kebersamaan melalui kegiatan ini,’’ pungkasnya

Reaksi:

1 komentar:

mas/mbak, kalo mo ikutan daftar stand masih bisa kah??
kami dr petani jamur tiram di malang??

mohon infonya

Posting Komentar